BERITAMUSI.COM – JAKARTA. Kinerja industri pengolahan Indonesia melesat pada bulan Maret 2021. IHS Markit mencatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Maret 2021 sebesar 53,2 atau naik dari 50,9 pada Februari 2021. 

“Bahkan mencatat posisi tertinggi dalam satu dekade pengumpulan data kami, atau sejak April 2011. Kinerja solid ini juga melampaui puncak survei sebelumnya yang terlihat pada Juni 2014 dan Juli 2014,” ujar lembaga tersebut dalam keterangan resminya, Kamis (1/4). 

Rekor perbaikan sektor tersebut didorong oleh pertumbuhan permintaan baru dan produksi (output). Keduanya juga menorehkan kinerja paling tinggi sejak satu dekade terakhir. 

Produksi tercatat naik selama lima bulan berturut-turut. Ini seiring dengan kenaikan volume permintaan baru. Sayangnya, permintaan baru hanya kuat di domestik saja, karena pandemi Covid-19 masih memengaruhi bisnis ekspor. 

Baca Juga: Pasar saham, obligasi, dan emas tertekan di kuartal I, ini prospeknya pada kuartal II

Pesanan ekspor baru bahkan menurun selama enam belas bulan berturut-turut, meski tidak serendah pada bulan November 2020.  Namun, perusahaan tetap optimistis bahwa kenaikan output akan bertahan selama tahun yang akan datang, dengan kepercayaan diri berbisnis yang mencapai posisi tertinggi sejak 50 bulan. 

Seiring dengan kenaikan tajam permintaan baru, ini juga memberi tekanan pada kapasitas operasional. Penumpukan pekerjaan naik untuk pertama kalinya dalam 21 bulan. Karena ini, pemutusan hubungan kerja (PHK) pun menjadi lebih minim. 

Kenaikan beban kerja juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan aktivitas pembelian pada kecepatan solid, bahkan yang tercepat ketiga sepanjang survei. 

Baca Juga: Pengusaha Masih Optimistis, Dua Aksi Teror Tidak Menganggu Pemulihan Ekonomi

Berkaitan dengan pembelian bahan, perusahaan menghadapi kenaikan tajam pada biaya dan penundaan pengiriman. Tingkat inflasi biaya mengalami percepatan selama enam bulan berturut-turut dan merupakan yang tercepat sejak bulan Oktober 2018. 

Kekurangan bahan baku disebabkan oleh kekurangan pasokan akibat penundaan pengiriman dan cuaca buruk. Namun, sejauh ini perusahaan nampak bisa menjaga stok pembelian. 

Meski, meningkatnya biaya input menyebabkan harga output juga meningkat. Tetapi kenaikan harga output jauh lebih rendah bila dibandingkan pada bulan Februari 2021. 

Baca Juga: Pengusaha nilai relaksasi jaminan sosial ketenagakerjaan perlu dilanjutkan



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *